Thong-Thong Lek Rembang 2026 Digelar Kembali dengan Konsep Keliling
Rembang, jatengupdate.web.id — Thong-Thong Lek Rembang 2026 dipastikan kembali digelar oleh Pemerintah Kabupaten Rembang pada Ramadan tahun ini. Tradisi tahunan tersebut tetap mempertahankan konsep arak-arakan keliling yang menjadi ciri khas sekaligus daya tarik utama bagi masyarakat.
Pemerintah daerah menilai pola keliling mampu menghadirkan kemeriahan Ramadan secara lebih merata. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus penguat interaksi sosial warga.
Konsep Keliling Tetap Jadi Andalan
Wakil Bupati Rembang, Mochamad Hanies Cholil Barro’, menyampaikan bahwa agenda budaya ini dijadwalkan berlangsung pada 17 Maret 2026. Menurut dia, skema pelaksanaan tidak mengalami perubahan signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tetap memilih pola arak-arakan keliling karena terbukti efektif menghadirkan semarak Ramadan di berbagai wilayah.
“Insyaallah tetap keliling. Tahun kemarin kita sudah mengadakan keliling, tahun ini juga kembali digelar. Untuk rutenya masih dalam pembahasan, tapi kemungkinan besar masih sama seperti tahun kemarin,” ujarnya saat ditemui di Kantor Bupati Rembang, Senin (23/2/2026).
Saat ini, Pemkab masih mematangkan rute resmi pawai budaya tersebut. Namun, format umum kegiatan dipastikan tetap mengacu pada pelaksanaan sebelumnya.
Tradisi Thong-Thong Lek Rembang Dijaga Tetap Tradisional
Pemerintah Kabupaten Rembang menegaskan bahwa tradisi thong-thong lek Rembang bukan sekadar hiburan tahunan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bagian penting dari pelestarian warisan budaya lokal.
Festival thong-thong lek Ramadan telah lama menjadi identitas khas bulan suci di daerah tersebut. Tradisi ini tumbuh dari kreativitas masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Wabup menuturkan, penggunaan alat musik sederhana tetap menjadi ruh utama pertunjukan. Panitia juga berupaya membatasi dominasi perangkat elektrik agar nuansa tradisional tetap kuat.
“Pertimbangan kami menggelar kegiatan ini karena merupakan warisan budaya dan tradisi Ramadan di Kabupaten Rembang yang harus kita lestarikan bersama. Kita tetap mengutamakan konsep tradisionalnya,” imbuhnya.
Perkuat Kebersamaan Masyarakat
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, pawai budaya Rembang ini juga dinilai mampu memperkuat kebersamaan warga. Setiap kelompok peserta biasanya berasal dari lingkungan masyarakat yang menampilkan kreativitas masing-masing.
Momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk menghadirkan kegiatan berbasis partisipasi publik. Karena itu, pemerintah berharap antusiasme warga pada Thong-Thong Lek Rembang 2026 tetap tinggi.
Konsep keliling dinilai memberi dampak sosial yang luas. Interaksi antarwarga di sepanjang rute pawai menjadi salah satu nilai positif yang terus dipertahankan.
Pemerintah daerah juga membuka ruang evaluasi guna memastikan penyelenggaraan tahun ini berjalan tertib dan aman. Koordinasi lintas pihak terus dilakukan menjelang hari pelaksanaan.
Harapan untuk Penyelenggaraan Tahun Ini
Dengan kembali digelarnya Thong-Thong Lek Rembang 2026, pemerintah berharap tradisi ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Selain menjaga identitas budaya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi magnet partisipasi masyarakat selama Ramadan.
Baca juga perkembangan berita daerah lainnya di kanal Regional Jateng Update.
Informasi mengenai pelestarian budaya nasional dapat diakses melalui situs resmi Kementerian Kebudayaan.
Penutup
Pemkab Rembang memastikan tradisi ini tetap digelar dengan konsep keliling sebagai ciri khas utama. Agenda budaya tersebut diharapkan terus memperkuat kebersamaan warga sekaligus menjaga warisan Ramadan di daerah.













