SRAGEN, jatengupdate.web.id — Wajik Jenang Krasikan Sragen menjadi salah satu camilan tradisional khas Jawa Tengah yang masih bertahan hingga sekarang. Makanan ini dikenal karena proses pembuatannya yang tetap mempertahankan metode tradisional sejak puluhan tahun lalu.
Wajik Jenang Krasikan Sragen diproduksi oleh seorang perajin bernama Mbah Rajak yang kini berusia sekitar 90 tahun. Ia telah membuat camilan tersebut sejak tahun 1964 menggunakan peralatan dapur tradisional.
Selain mempertahankan resep lama, proses memasaknya juga masih menggunakan tungku tanah dan kayu bakar. Cara memasak ini dipercaya mampu menjaga cita rasa khas yang tidak berubah hingga sekarang.
Karena itu, Wajik Jenang Krasikan Sragen tidak hanya menjadi makanan ringan biasa. Kuliner ini juga menjadi bagian dari warisan tradisi kuliner masyarakat Kabupaten Sragen.
Proses Pembuatan Wajik Jenang Krasikan Sragen Secara Tradisional
Proses pembuatan Wajik Jenang Krasikan Sragen masih menggunakan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Bahan utama yang digunakan antara lain beras ketan, gula merah, serta santan kelapa.
Selain itu, bahan-bahan tersebut dimasak secara perlahan di atas tungku tanah dengan menggunakan kayu bakar. Proses memasak dilakukan dalam waktu cukup lama agar tekstur dan rasa menjadi sempurna.
Selama proses tersebut, adonan terus diaduk hingga mengental dan menghasilkan tekstur yang kenyal serta rasa manis khas. Karena menggunakan bahan alami, camilan ini memiliki aroma gula merah yang kuat.
Tekstur wajik biasanya lebih padat dan kenyal. Sementara itu, jenang memiliki tekstur yang lebih lembut dan legit.
Kombinasi rasa manis dari gula merah dan gurih dari santan membuat camilan ini memiliki cita rasa khas. Oleh karena itu, Wajik Jenang Krasikan Sragen masih diminati oleh banyak masyarakat hingga sekarang.
Ngolah Sedoso-nan, Tradisi Produksi Wajik Krasikan Sragen
Dalam proses produksinya, Wajik Jenang Krasikan Sragen memiliki tradisi unik yang dikenal dengan istilah “Ngolah Sedoso-nan”. Istilah tersebut berasal dari kata “ngolah” yang berarti membuat dan “sedoso” yang berarti sepuluh.
Tradisi ini muncul karena setiap hari produksi camilan dilakukan dalam jumlah yang sama, yakni sekitar 10 kilogram untuk setiap jenis makanan. Artinya, produksi wajik dan jenang masing-masing mencapai sekitar 10 kilogram per hari.
Karena jumlah produksi yang serba sepuluh, masyarakat kemudian menyebut proses pembuatan tersebut sebagai Ngolah Sedoso-nan. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun.
Selain menjadi ciri khas produksi, metode tersebut juga menunjukkan konsistensi para perajin dalam menjaga kualitas makanan. Produksi dalam jumlah terbatas membuat cita rasa tetap terjaga.
Jenang Krasikan Khas Sragen Jadi Daya Tarik Wisata Kuliner
Seiring berkembangnya wisata kuliner di Jawa Tengah, Wajik Jenang Krasikan Sragen juga mulai dikenal lebih luas. Banyak pengunjung yang datang untuk melihat langsung proses pembuatannya.
Rumah produksi camilan tradisional ini berada di Desa Cantel Wetan, Kabupaten Sragen. Lokasinya berada sekitar 500 meter ke arah utara dari kompleks Kantor Pemerintah Kabupaten Sragen.
Tempat produksi tersebut masih mempertahankan suasana tradisional. Peralatan dapur yang digunakan juga tetap sederhana.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat secara langsung proses memasak menggunakan tungku tanah. Proses ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Bagi sebagian pengunjung, pengalaman melihat langsung proses pembuatan makanan tradisional memberikan nilai edukasi. Wisata kuliner seperti ini juga membantu memperkenalkan kekayaan budaya daerah.
Pelestarian Kuliner Tradisional Jawa Tengah
Keberadaan Wajik Jenang Krasikan Sragen menjadi bagian penting dalam pelestarian kuliner tradisional Jawa Tengah. Makanan ini menunjukkan bahwa resep tradisional masih dapat bertahan di tengah perkembangan zaman.
Selain itu, penggunaan metode memasak tradisional juga membantu menjaga keaslian rasa. Oleh karena itu, camilan ini tetap memiliki karakter khas yang sulit ditemukan pada produk modern.
Pelestarian makanan tradisional juga memiliki nilai budaya yang penting. Kuliner lokal sering kali menjadi identitas daerah yang memperkaya keragaman budaya Indonesia.
Dengan dukungan promosi dan pengembangan wisata kuliner, Wajik Jenang Krasikan Sragen berpotensi semakin dikenal oleh masyarakat luas. Bahkan, camilan ini dapat menjadi salah satu ikon kuliner khas Kabupaten Sragen.
Penutup
Wajik Jenang Krasikan Sragen merupakan camilan tradisional yang telah diproduksi sejak tahun 1964. Dengan bahan sederhana dan proses memasak tradisional, makanan ini tetap mempertahankan cita rasa khas hingga sekarang.
Selain menjadi makanan ringan favorit masyarakat, Wajik Jenang Krasikan Sragen juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional Jawa Tengah yang terus dilestarikan.










