Kota Pekalongan, jatengupdate.web.id — SKB Kota Pekalongan pendidikan nonformal Jawa Tengah terus didorong menjadi garda terdepan dalam memperluas akses layanan pendidikan bagi masyarakat. Peran Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dinilai strategis dalam menghadirkan pendidikan inklusif yang menjangkau seluruh lapisan warga.
Penguatan fungsi tersebut disampaikan Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Tengah, Nugraheni Triastuti, saat melakukan kunjungan ke Satuan Pendidikan Nonformal SKB Kota Pekalongan beberapa waktu lalu.
Menurut dia, pendidikan nonformal memiliki posisi penting sebagai jalur alternatif yang memastikan masyarakat tetap memperoleh kesempatan belajar. Karena itu, keberadaan SKB perlu terus diperkuat dari sisi mutu layanan maupun tata kelola.
Peran Strategis Sanggar Kegiatan Belajar Pekalongan
Nugraheni menegaskan, Sanggar Kegiatan Belajar Pekalongan merupakan ujung tombak dalam menghadirkan kesempatan kedua bagi warga yang belum terlayani pendidikan formal. Melalui pendekatan inklusif, SKB mampu menjangkau kelompok masyarakat yang beragam.
Ia menjelaskan, pendidikan nonformal tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai solusi pemerataan pendidikan. Dengan demikian, tidak ada warga yang tertinggal dalam memperoleh hak belajar.
Lebih lanjut, Nugraheni menekankan bahwa prinsip inklusivitas harus diterapkan secara menyeluruh. Artinya, layanan tidak berhenti pada penerimaan peserta didik, tetapi juga menyentuh proses pembelajaran yang adaptif.
“Mulai dari asesmen awal, modifikasi strategi pembelajaran, pendampingan berkelanjutan hingga evaluasi yang berkeadilan harus dirancang berpihak pada kebutuhan warga belajar,” ujarnya.
Penguatan Pendidikan Kesetaraan Jawa Tengah
Dalam konteks pendidikan kesetaraan Jawa Tengah, integrasi antara pembelajaran akademik dan pemberdayaan masyarakat dinilai semakin mendesak. Program kesetaraan diharapkan tidak sekadar menghasilkan ijazah, tetapi juga membangun kemandirian peserta didik.
Oleh karena itu, penguatan kecakapan hidup (life skills) dan keterampilan vokasional menjadi fokus utama. Lulusan pendidikan nonformal diharapkan memiliki kompetensi aplikatif yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Nugraheni menambahkan, peningkatan kualitas pendidikan nonformal inklusif harus didukung penguatan kapasitas pendidik, tata kelola lembaga yang akuntabel, serta kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan pemangku kepentingan akan mempercepat peningkatan mutu layanan SKB di Jawa Tengah.
Layanan Pembelajaran Adaptif di SKB Kota Pekalongan
Kepala SKB Kota Pekalongan, Lisa Anggraeni, menjelaskan pihaknya telah menerapkan model pembelajaran adaptif untuk mengakomodasi kebutuhan warga belajar yang beragam.
Ia memaparkan, penyelenggaraan Program Paket A inklusi dan Paket A reguler dilaksanakan pada pagi hari. Sementara itu, Program Paket B dan Paket C dijadwalkan pada sore hari.
Pengaturan waktu tersebut bertujuan agar pendampingan lebih terfokus dan pengelolaan kelas menjadi lebih efektif. Dengan pola ini, kebutuhan belajar setiap kelompok dapat difasilitasi secara optimal.
Selain itu, SKB Kota Pekalongan pendidikan nonformal Jawa Tengah juga rutin melakukan evaluasi berkala. Langkah ini penting untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai prinsip diferensiasi dan keadilan akses.
Kolaborasi dan Dukungan Berkelanjutan
Ke depan, pihak SKB berharap pendampingan dari BBPMP Jawa Tengah dapat terus berlanjut. Dukungan kebijakan dan peningkatan kapasitas pendidik dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas layanan.
Selain itu, penguatan sarana dan prasarana juga menjadi kebutuhan mendesak agar pendidikan nonformal inklusif semakin kokoh. Dengan dukungan tersebut, SKB diharapkan mampu menjawab tantangan pemerataan pendidikan.
Program pendidikan kesetaraan Jawa Tengah pun diharapkan semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih, banyak warga belajar yang membutuhkan keterampilan praktis untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Penutup
Penguatan SKB Kota Pekalongan pendidikan nonformal Jawa Tengah menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas akses belajar yang inklusif dan berkeadilan. Peran SKB sebagai garda terdepan menjadi kunci menghadirkan kesempatan pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas sektor, peningkatan kapasitas pendidik, serta penguatan layanan adaptif, pendidikan nonformal di Kota Pekalongan diharapkan semakin bermutu dan mampu memberdayakan warga belajar secara berkelanjutan.













