Klaten, Jawa Tengah, jatengupdate.web.id – NgabubuRide Klaten Wedi menjadi sorotan setelah menampilkan potret toleransi antarumat beragama yang memukau. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo memimpin langsung rombongan riding menuju Masjid Fadh Al Buthy, Dukuh Margorejo, Desa Canan, Kecamatan Wedi, pada Senin (9/3/2026) sore. Warga menyambut antusias kedatangan rombongan di lokasi kegiatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Ramadive Fest 2026 yang digelar Pemkab Klaten. Rombongan berangkat dari Taman Kuliner MPP Klaten menuju Masjid Fadh Al Buthy. Sepanjang perjalanan, Bupati dan rombongan turut menyapa masyarakat di wilayah yang dilewati.
Berbagai komunitas motor di Klaten turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menambah semarak suasana riding sore menjelang buka puasa. Semangat kebersamaan terasa kuat selama perjalanan berlangsung.
NgabubuRide Klaten Wedi Tampilkan Potret Toleransi yang Memukau
Momen yang paling menarik perhatian terjadi saat rombongan tiba di Dukuh Margorejo. Warga setempat mempersilakan rombongan memarkirkan kendaraan di halaman Gereja Fajar Pengharapan. Lokasi gereja tersebut berdekatan dengan Masjid Fadh Al Buthy tempat kegiatan digelar.
Meski kegiatan berlangsung di masjid, warga gereja menyambut dengan tangan terbuka. Sikap toleransi ini langsung mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Hamenang. Ia menyebut hal tersebut sebagai contoh kerukunan yang luar biasa.
“Alhamdulillah luar biasa sekali toleransi yang ditunjukkan warga. Saya berharap toleransi ini terus dirawat,” ungkap Hamenang. Menurutnya, sikap saling menghormati menjadi modal utama merawat kerukunan masyarakat. NgabubuRide Klaten Wedi ini membuktikan bahwa perbedaan tidak menghalangi kebersamaan.
Potret toleransi tersebut menjadi nilai tambah dari kegiatan NgabubuRide kali ini. Banyak peserta yang turut mengapresiasi sikap warga Margorejo. Kerukunan antarumat beragama di dukuh tersebut sudah terjaga sejak lama.
Selain itu, lokasi masjid dan gereja yang berdekatan menjadi simbol harmoni. Kedua rumah ibadah berdiri berdampingan di lingkungan yang sama. Warga dari kedua komunitas agama hidup rukun dan saling membantu sehari-hari.










