Sektor perumahan dan kawasan permukiman mendapat alokasi Rp46,22 miliar. Perdagangan dan koperasi memperoleh Rp24,44 miliar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. Sementara itu, pertanian mendapat Rp2,72 miliar dan infrastruktur perdesaan Rp1,21 miliar.
Alokasi anggaran ini menunjukkan keberpihakan Pemkab Sragen terhadap pembangunan fisik. Infrastruktur yang memadai menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan begitu, konektivitas antarwilayah dan akses masyarakat semakin meningkat.
Perencanaan Pembangunan Daerah Sragen Tunjukkan Indikator Positif
Kabapperida Litbang Sragen Dwiyanto memaparkan sejumlah indikator pembangunan yang positif. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Sragen masih berada di atas rata-rata Jawa Tengah. Selain itu, Tingkat Pengangguran Terbuka Sragen hanya 3,49 persen, jauh di bawah rata-rata nasional.
“Tingkat Pengangguran Terbuka di Sragen berada di bawah rata-rata nasional maupun provinsi,” jelas Dwiyanto. Perencanaan pembangunan daerah Sragen yang terarah menghasilkan capaian tersebut. Oleh karena itu, strategi pembangunan perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan.
Namun demikian, Dwiyanto mengakui masih ada tantangan terkait angka kemiskinan. Angka kemiskinan Sragen berada di kisaran 11,22 persen, masih di atas rata-rata nasional. Meskipun begitu, penurunan signifikan sekitar 1,15 persen telah terjadi pada tahun ini.
Dwiyanto juga mencatat peningkatan pada indikator pembangunan lainnya. Kualitas infrastruktur, pengelolaan sampah, dan pelayanan dasar masyarakat terus membaik. Dengan demikian, tren positif ini perlu dipertahankan melalui perencanaan yang lebih matang.
Melalui Musrenbang Sragen 2027, Pemkab berharap perencanaan pembangunan semakin terarah dan terintegrasi. Peningkatan belanja infrastruktur hingga 39,95 persen dan efisiensi anggaran menjadi bukti komitmen nyata pemerintah daerah. Pada akhirnya, seluruh upaya ini bertujuan menjawab tantangan pembangunan dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sragen secara menyeluruh.













