Produksi Padi Jawa Tengah Surplus, Pasokan Pangan Dipastikan Aman

Surplus produksi padi Jawa Tengah awal 2026
Pemerintah memastikan pasokan pangan Jateng aman berkat surplus produksi padi.

SEMARANG, jatengupdate.web.id
produksi padi Jawa Tengah surplus pada awal 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan kondisi tersebut membuat pasokan pangan masyarakat tetap aman menjelang periode konsumsi tinggi.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defrancisco Dasilva Tavares, menyampaikan bahwa estimasi produksi gabah kering giling (GKG) periode Januari–Maret 2026 mencapai sekitar 3,35 juta ton.

Dari angka tersebut, setelah dikonversi terhadap kebutuhan konsumsi, Jawa Tengah diperkirakan mencatat surplus beras sekitar 900 ribu ton.

“Secara produksi kita surplus. Tantangannya sekarang adalah distribusi dan tata kelola agar pasokan tetap berada di Jawa Tengah serta memperkuat cadangan,” ujar Frans saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima audiensi Perum Bulog Kanwil Jateng, Selasa (3/3/2026).

Produksi Padi Jawa Tengah Surplus, Distribusi Jadi Tantangan

Kondisi produksi padi Jawa Tengah surplus menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan daerah. Namun demikian, pemerintah menilai aspek distribusi masih perlu penguatan.

Frans menjelaskan, stabilitas pasokan tidak hanya ditentukan oleh produksi tinggi. Pengelolaan distribusi dan penyimpanan cadangan pangan juga memegang peran penting.

Saat ini, harga gabah di tingkat petani berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.

Di sejumlah daerah, harga bahkan mencapai kisaran Rp6.700 hingga Rp7.000 per kilogram. Meski begitu, harga beras di tingkat konsumen masih relatif terkendali.

Pemerintah mencatat harga beras rata-rata masih berada di bawah Rp13.000 per kilogram, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Serapan Bulog Dipercepat untuk Jaga Surplus Beras Jateng

Untuk menjaga surplus beras Jateng, Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah terus mempercepat penyerapan gabah petani.

Kepala Perum Bulog Kanwil Jateng, Sri Muniati, mengungkapkan hingga awal Maret 2026 realisasi serapan mencapai 63.909 ton setara beras.

Angka tersebut setara 12,39 persen dari target pengadaan tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 515.722 ton setara beras.

Menurut Muniati, puncak panen diperkirakan terjadi pada Maret hingga April 2026. Periode tersebut menjadi momentum penting untuk percepatan serapan.

“Rata-rata serapan saat ini sekitar 3.000 ton per hari. Untuk mencapai target tahunan, diperlukan peningkatan hingga sekitar 3.900 ton per hari,” jelasnya.

Artinya, masih dibutuhkan tambahan sekitar 900 ton per hari agar target pengadaan 2026 dapat tercapai atau bahkan terlampaui.

Pasokan Pangan Jawa Tengah Aman, Bulog Minta Dukungan Industri

Meski pasokan pangan Jawa Tengah aman, Bulog tetap meminta dukungan berbagai pihak untuk memperkuat cadangan pemerintah.

Bulog mendorong pelaku industri pengolahan padi yang belum menjadi Mitra Pengadaan Pangan (MPP) agar dapat berkontribusi minimal 10 persen dari kapasitas produksinya.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan stok sekaligus memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Selain komoditas beras, Bulog Jateng juga mendapat penugasan menyerap jagung pipil kering untuk Cadangan Jagung Pemerintah (CJP).

Pada 2026, target penyerapan jagung ditetapkan sebesar 73.776 ton. Hingga 1 Maret 2026, realisasi baru mencapai 5.230,85 ton atau 7,09 persen dari target tahunan.

Di sisi lain, untuk komoditas minyak goreng rakyat, realisasi penerimaan Minyakita telah mencapai 6.099.616 liter atau 90,06 persen dari rencana pengadaan.

Stok Cadangan Pangan Jateng Terpantau Aman

Data per 1 Maret 2026 menunjukkan posisi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Jawa Tengah mencapai 344.312 ton setara beras.

Selain itu, tersedia stok jagung pipil kering sebesar 8.103 ton serta cadangan minyak goreng total 3.530.273 liter.

Dengan capaian tersebut, pemerintah memastikan kondisi produksi gabah Jateng meningkat sejalan dengan ketersediaan stok yang memadai.

Pemerintah daerah tetap melakukan pemantauan rutin untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan.

Gubernur Ingatkan Jangan Terlena

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pemerintah daerah tidak boleh lengah meskipun kondisi produksi saat ini surplus.

Ia meminta seluruh jajaran terkait terus memantau dinamika harga baik di tingkat petani maupun konsumen.

“Kita tidak boleh terlena. Jangan sampai terlena soal kenaikan harga. Segera intervensi agar tidak ada fluktuasi harga tinggi,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen menjaga keseimbangan antara kepentingan petani, stabilitas harga, serta ketersediaan pangan masyarakat.

Penutup

Kondisi produksi padi Jawa Tengah surplus pada awal 2026 menjadi modal penting bagi ketahanan pangan daerah. Namun, pemerintah tetap menekankan pentingnya penguatan distribusi, percepatan serapan, dan pengawasan harga.

Melalui koordinasi antara Pemprov, Bulog, dan pelaku industri, pasokan pangan di Jawa Tengah diharapkan tetap stabil serta mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *