Program AGUS Santri Jawa Tengah Diluncurkan, Wagub Dukung Penguatan Gizi dan Literasi Al-Qur’an

PBNU meluncurkan Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri (AGUS) di Semarang dengan distribusi 100 ribu mushaf dan bantuan pangan bagi pesantren.

Peluncuran program AGUS santri Jawa Tengah di Pondok Pesantren Al Uswah Semarang
Wakil Gubernur Jawa Tengah menghadiri peluncuran Program AGUS untuk memperkuat gizi dan literasi Al-Qur’an santri.

Semarang, jatengupdate.web.id — Program AGUS santri Jawa Tengah resmi diluncurkan sebagai langkah memperkuat pendidikan Al-Qur’an sekaligus pemenuhan gizi bagi santri di berbagai pesantren. Program tersebut merupakan inisiatif Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri.

Peluncuran program tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menilai program ini sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

Program AGUS santri Jawa Tengah juga dinilai mampu memperkuat dua aspek penting pendidikan pesantren. Pertama adalah penguatan literasi Al-Qur’an, dan kedua adalah pemenuhan kebutuhan gizi bagi santri.

Peluncuran program berlangsung di Pondok Pesantren Al Uswah, Gunungpati, Kota Semarang, Minggu (8/3/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pengurus PBNU, pengasuh pesantren, serta para santri.

Menurut Taj Yasin Maimoen, program ini merupakan bentuk kolaborasi antara organisasi masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas generasi muda.

“Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengapresiasi PBNU dan seluruh jaringan NU yang ikut menyukseskan dua program ini,” ujar Taj Yasin.

Program AGUS Santri Jawa Tengah Perkuat Literasi Al-Qur’an

Program AGUS santri Jawa Tengah diluncurkan dengan sejumlah kegiatan utama. Salah satunya adalah distribusi mushaf Al-Qur’an ke berbagai pesantren di Indonesia.

PBNU menyalurkan sekitar 100 ribu mushaf Al-Qur’an dengan nilai sekitar Rp10 miliar. Mushaf tersebut didistribusikan untuk mendukung kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di lingkungan pesantren.

Selain distribusi mushaf, program ini juga memberikan bantuan pangan untuk mendukung pemenuhan gizi santri. Bantuan tersebut berupa 20 ton telur yang disalurkan kepada sejumlah pesantren.

Program gerakan Alquran dan gizi untuk santri ini digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU. Pelaksanaannya dilakukan bersama Yayasan Al Fatihah.

Menurut Taj Yasin, penguatan literasi Al-Qur’an merupakan bagian penting dari pembangunan karakter generasi muda.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah selama ini juga memberikan perhatian terhadap pendidikan Al-Qur’an di berbagai daerah.

Salah satu bentuk perhatian tersebut adalah pemberian tali asih kepada para penghafal Al-Qur’an. Program tersebut menjadi bentuk penghargaan sekaligus motivasi bagi generasi muda.

“Dengan adanya distribusi mushaf ini, kami berharap semakin banyak santri yang terdorong untuk mempelajari, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an,” kata Taj Yasin.

Gerakan Alquran dan Gizi untuk Santri Dukung Kesehatan Pesantren

Selain fokus pada literasi Al-Qur’an, program AGUS santri Jawa Tengah juga menekankan aspek kesehatan dan gizi santri.

Manajer Program AGUS, Ulun Nuha, menjelaskan bahwa kebutuhan dukungan bagi santri masih cukup besar di berbagai pesantren.

Berdasarkan data Kementerian Agama, terdapat lebih dari 28 ribu pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.

Jumlah santri mukim di pesantren tersebut mencapai sekitar 1,6 juta orang. Secara keseluruhan, jumlah santri diperkirakan mencapai sekitar lima juta orang.

Menurut Ulun Nuha, sebagian pesantren masih menghadapi keterbatasan fasilitas pembelajaran Al-Qur’an.

Di beberapa tempat, jumlah mushaf yang tersedia masih terbatas. Akibatnya, santri harus bergantian ketika mengikuti kegiatan belajar Al-Qur’an.

Selain itu, sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya persoalan gizi di kalangan santri.

Salah satu penelitian bahkan menemukan bahwa lebih dari 50 persen santri perempuan mengalami kekurangan gizi.

Melalui program gizi santri Jawa Tengah ini, PBNU berupaya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi santri di pesantren.

“Santri adalah masa depan kita. Karena itu RMI PBNU bersama Yayasan Al Fatihah meluncurkan program Gerakan Al-Qur’an dan Gizi untuk Santri,” ujar Ulun Nuha.

Kolaborasi Pesantren dan Pemerintah Perkuat Pemenuhan Gizi

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyampaikan bahwa program AGUS merupakan bagian dari kontribusi pesantren dalam mendukung program pemenuhan gizi nasional.

PBNU juga menjalin kerja sama dengan pemerintah untuk memperluas layanan pemenuhan gizi masyarakat.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Menurut Yahya Cholil Staquf, hingga saat ini hampir 200 titik layanan telah diresmikan.

Sementara itu, lebih dari 300 titik lainnya masih berada dalam tahap proses pembangunan.

Melalui kolaborasi tersebut, pesantren diharapkan dapat menjadi bagian dari jaringan pemenuhan gizi nasional.

Program AGUS santri Jawa Tengah juga diharapkan mampu memperkuat peran pesantren dalam pembangunan sumber daya manusia.

Selain memberikan dukungan pendidikan Al-Qur’an, pesantren juga dapat menjadi pusat pembinaan kesehatan bagi para santri.

“Alhamdulillah sore hari ini RMI meluncurkan satu lagi program yang menjadi wujud ikhtiar membantu kebutuhan di lingkungan pesantren,” ujar Yahya.

Penutup

Peluncuran program AGUS santri Jawa Tengah menjadi langkah kolaboratif antara organisasi keagamaan dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas santri. Program ini tidak hanya memperkuat literasi Al-Qur’an, tetapi juga mendukung pemenuhan gizi bagi santri di berbagai pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *