Berbagai penelitian mendukung kebijakan penundaan akses media sosial bagi anak. Penggunaan media sosial yang berlebihan terbukti meningkatkan kecanduan gawai. Selain itu, kekerasan daring dan menurunnya konsentrasi belajar juga menjadi dampak yang terukur.
Dukungan dari kalangan pendidikan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah. Sektor pendidikan memahami dampak langsung media sosial terhadap proses belajar anak. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan pendidik sangat penting.
Aturan Akses Medsos Anak 2025 Dapat Dukungan dari Pelajar
Siswa SMAN 3 Jakarta Yasser Baihaqi Balny menyatakan dukungannya terhadap aturan akses medsos anak 2025 ini. Menurutnya, banyak pelajar seusianya mulai terpapar konten yang tidak sesuai. Pengalaman langsung tersebut membuatnya yakin bahwa aturan ini diperlukan.
“Kadang muncul juga konten yang tidak pantas dilihat oleh anak di bawah 16 tahun,” ujar Yasser. Ia menilai kebijakan tersebut bukan untuk membatasi kebebasan anak. Sebaliknya, aturan ini merupakan bentuk perlindungan bagi generasi muda.
“Kalau melihat pengalaman sendiri dan teman-teman, aturan ini sebenarnya sangat positif,” katanya. Ia berharap kebijakan ini dapat membantu teman-temannya menggunakan teknologi secara lebih sehat. Dukungan dari pelajar menunjukkan bahwa kebijakan ini memang dibutuhkan.
Dalam kegiatan Kelas Digital Sahabat Tunas, sekitar 500 pelajar SMP hingga SMA hadir berdiskusi. Mereka membahas keamanan digital dan penggunaan teknologi secara sehat. Antusiasme pelajar menunjukkan kesadaran akan pentingnya keamanan di ruang digital.









