Jakarta, jatengupdate.web.id – Hoaks lowongan kerja Perum Bulog kembali beredar di media sosial TikTok. Unggahan tersebut mencantumkan syarat serta kualifikasi pendaftaran yang menyerupai rekrutmen resmi. Pelamar diarahkan untuk mendaftar melalui tautan yang tertera pada bio akun pengunggah.
Setelah ditelusuri, klaim tersebut dipastikan tidak benar. Tautan yang dicantumkan mengarah ke laman tidak resmi milik Perum Bulog. Dengan demikian, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap informasi serupa.
Perum Bulog sendiri telah mengeluarkan klarifikasi resmi terkait informasi tersebut. Klarifikasi disampaikan melalui akun Instagram resmi @lifeatperumbulog. Pihaknya menegaskan bahwa unggahan tersebut bukan berasal dari kanal resmi perusahaan.
Hoaks Lowongan Kerja Perum Bulog Minta Data Pribadi Lewat Situs Palsu
Berdasarkan penelusuran yang dilansir dari saberhoaks.jabarprov.go.id, tautan dalam unggahan mengarah ke situs palsu. Situs tersebut meminta sejumlah data pribadi pelamar secara langsung. Data yang diminta meliputi nama lengkap sesuai KTP, usia, dan jenis kelamin.
Selain itu, situs palsu tersebut juga meminta nomor Telegram aktif dari pelamar. Permintaan data melalui platform Telegram bukan merupakan prosedur standar rekrutmen BUMN. Oleh karena itu, hal ini menjadi indikator kuat bahwa informasi tersebut palsu.
Lowongan palsu BUMN Bulog seperti ini kerap memanfaatkan nama besar perusahaan negara. Pelaku memanfaatkan antusiasme pencari kerja terhadap lowongan di BUMN. Dengan demikian, banyak orang yang terjebak tanpa menyadari bahaya yang mengintai.
Data pribadi yang dikumpulkan melalui situs palsu berpotensi disalahgunakan. Pelaku dapat menggunakan data tersebut untuk penipuan lanjutan atau kejahatan siber. Oleh karena itu, masyarakat harus selalu memverifikasi setiap lowongan kerja sebelum mendaftar.
Modus penipuan rekrutmen Perum Bulog ini bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, informasi serupa juga pernah beredar melalui platform lain seperti WhatsApp dan Facebook. Pola penipuannya relatif sama yaitu mengarahkan korban ke situs palsu peminta data.











