Kabupaten Brebes, jatengupdate.web.id — kolaborasi mahasiswa Brebes dan pemerintah daerah diperkuat melalui Konferensi Cabang (Konfercab) III serta Simposium Daerah DPC GMNI Brebes. Kegiatan berlangsung di Pendopo Bumiayu, Minggu (14/2/2026), dan sekaligus menjadi ajang refleksi terhadap tantangan ekologis yang dihadapi Brebes di usia ke-348 tahun.
Forum ini tidak hanya menjadi ruang regenerasi kepemimpinan, tetapi juga platform strategis untuk membahas isu lingkungan. Selain itu, mahasiswa dan pemerintah diharapkan bisa menghadirkan solusi nyata bagi persoalan ekologis.
Peran Mahasiswa dalam Mitigasi Krisis Lingkungan
Bupati Brebes yang diwakili Plh Sekretaris Daerah Brebes Apriyanto Sudarmoko mengapresiasi peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol sosial. Ia menegaskan, kondisi ekologis Brebes memerlukan keterlibatan aktif semua pihak, termasuk kalangan intelektual muda.
Apriyanto menyebutkan, Brebes memiliki kerentanan ekologis yang nyata. Misalnya, banjir rutin melanda wilayah selatan seperti Kecamatan Bumiayu akibat curah hujan tinggi, alih fungsi lahan, dan sedimentasi sungai. Selain itu, longsor di perbukitan, kekeringan saat musim kemarau, serta degradasi lingkungan akibat aktivitas manusia juga menjadi perhatian serius.
“Di sinilah peran kader GMNI dan kaum intelektual muda sangat dibutuhkan, dengan gagasan kritis, rekomendasi kebijakan konstruktif, dan gerakan nyata dalam menjaga kelestarian lingkungan serta memperkuat ekonomi kerakyatan,” ujarnya. Karena itu, kolaborasi mahasiswa Brebes dan pemerintah menjadi sangat strategis.
Komitmen Pemerintah pada Pembangunan Berkelanjutan
Apriyanto menekankan bahwa pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan. Pertumbuhan ekonomi harus seimbang dengan kelestarian ekologis. Dengan demikian, pemerintah daerah berkomitmen mendorong pembangunan berkelanjutan yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara harmonis.
Sementara itu, Ketua Panitia Yusuf menyampaikan bahwa Konfercab merupakan forum tertinggi DPC untuk merumuskan arah organisasi dan memilih kepemimpinan baru. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang strategis membahas isu lingkungan yang berdampak pada masyarakat.
“Di usia Brebes yang ke-348 tahun, GMNI ingin memastikan pembangunan seimbang, tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tetapi juga menjaga keberlanjutan ekologi,” tegas Yusuf. Dengan kata lain, kolaborasi mahasiswa Brebes dan pemerintah akan menjadi motor penggerak perubahan nyata.
Diskusi Strategis: Alih Fungsi Lahan dan Pengelolaan Sampah
Konfercab dan simposium menghadirkan sejumlah narasumber. Mereka antara lain Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya CDK Wilayah V DLH Provinsi Jawa Tengah Rokib SHut MP, Kepala Bidang Perencanaan Hukum Lingkungan DLH Gatot Setia Nugroho ST, serta aktivis lingkungan Kecamatan Sirampog Adi Gunawan SH. Narasumber menekankan pentingnya keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.
Isu strategis yang dibahas meliputi alih fungsi lahan, pengelolaan sampah, dan kerusakan kawasan hutan. Oleh karena itu, penyelesaian masalah tersebut membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan mahasiswa. Selain itu, rekomendasi kebijakan konstruktif dari mahasiswa diharapkan bisa menjadi masukan bagi pemerintah daerah.
Partisipasi Aktif Lima Komisariat GMNI
Konfercab diikuti lima komisariat DPK GMNI, yakni GMNI UMBS, GMNI STUPB, GMNI FKIP UPB, GMNI STAI Brebes, dan GMNI UMUS Brebes. Selain itu, hadir juga perwakilan DPD, DPP, dan alumni GMNI. Dengan demikian, seluruh elemen organisasi berpartisipasi aktif dalam merumuskan strategi pembangunan berkelanjutan di Brebes.
Melalui forum ini, kolaborasi mahasiswa Brebes dan pemerintah menjadi lebih konkret. Selain itu, peran generasi muda semakin diperkuat dalam menjaga kelestarian lingkungan serta keseimbangan pembangunan ekonomi di Kabupaten Brebes.













